Jumat, 09 April 2010

FONETIK DAN ALAT UCAP

A. Fonetik
Masalah yang pertama kali dihadapi oleh sesorang dalam mempelajari bahasa lisan, terutama bahasa asing, ialah masalah ucapannya. Sebelum mempelajari makna berbagai kata dan tata bahasa yang akan dihadapinya, terlebih dahulu ia harus mengenali bunyi-bunyi yang digunakan di dalamnya.
Seperti apa yang telah dikemukakan pada bahasan sebelumnya Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suate bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia. Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat.
Fonetik adalah suatu cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari bunyi bahasa secara eksklusif. Secara rinci dapat dikatakan bahwa fonetik adalah ilmu yang merekam dan menganalisis berbagai bunyi dan elemen-elemen bahasa serta penggunaan dan distribusinya di dalam kalimat-kalimat yang bersangkutan. Di dalam penggunaan bahasa lisan hampir selalu ada dua pihak yakni pembicara dan pendengar. Pihak pertama memproduksi bunyi-bunyi bahasa, sedangkan pihak kedua menerima dan memahaminya. Dengan demikian, kita tahu bahwa dalam fonetika terdapat dua aspek penting yakni aspek akustik dan aspek fisiologis atau artikulatoris. Aspek yang pertama mempelajari struktur lahir bunyi yang digunakan serta cara telinga mereaksi terhadap bunyi-bunyi tersebut. Aspek lainnya mempelajari mekanisme yang mempunyai peranan dalam memproduksi bunyi-bunyi itu serta bagaimana memproduksinya.
Ilmu fonetik mempunyai empat cabang utama yaitu: (1) ilmu fonetik umum; (2) ilmu fonetik deskriptif; (3) ilmu fonetik historis; dan (4) ilmu fonetik normatif. Cabang yang pertama mempelajari susunan alat ucap dan kemungkinan penggunaannya untuk memproduksi bunyi bahasa. Cabang yang kedua mempelajari hal-hal yang istimewa dalam suatu bahasa atau dialek tertentu. Cabang yang ketiga mempelajari perubahan-perubahan fonetik yang dialami oleh suatu bahasa dalam sejarah pertumbuhannya. Cabang yang terakhir merupakan keseluruhan perangkat kaidah yang menentukan ucapan yang baik berdasarkan norma ucapan yang diakui oleh pemakai bahasa di suatu negara, masyarakat suatu unit budaya, atau suatu kelompok sosial. Yang menjadi perhatian utama dalam modul perkuliahan ini adalah ilmu fonetik umum yang mencakup fonetika fisiologis, fonetika akustik, dan fonetika auditoris. Di antara tiga macam fonetika itu yang sangat berhunbungan dengan pengajaran adalah fonetika fisiologis (fonetik artikulatoris).
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, jika seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia dapat memberikan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional adalah Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun beliau berkunjung, beliau selalu memberikan khotbah dengan menggunakan bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa beliau memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup belajar fonetik saja untuk mampu mengucapkan bunyi ratusan bahasa dengan tepat.

B. Alat Ucap
Pada bahasan sebelumnya telah disinggung bahwa bunyi bahasa dapat dipelajari dengan berbagai cara: akustik, auditoris, fisiologis (artikulatoris), sehingga tumbuhlah fonetik akustik, fonetik auditoris, dan fonetik artikulatoris. Fonetik artikulatoris membicarakan cara-cara alat ucap membentuk berbagai bunyi bahasa. Dalam hal ini yang terlebih dahulu untuk dipelajari adalah alat ucap dan bagian-bagiannya.
Alat-alat ucap manusia yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi tiga bagian yakni (1) artikulator; (2) titik artikulasi; dan (3) alat-alat lain yang mendukung proses terjadinya bunyi bahasa.
1) Artikulator
Artikulator ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat menyentuh bagian-bagian alat ucap yang lain (titik artikulasi) serta dapat membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak di bagian bawah atau rahang bawah.
Alat-alat ucap yang termasuk artikulator antara lain:
a) bibir bawah (labium);
b) gigi bawah (dentum);
c) ujung lidah (apeks);
d) depan lidah (front of the tongue);
e) tengah lidah (lamino);
f) belakang lidah (dorsum); dan
g) akar lidah.
2) Titik Artikulasi
Titik artikulasi ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan bersifat statis. Alat-alat ini terdapat di bagian atas atau rahang atas. Alat-alat ucap yang termasuk pada bagian ini antara lain:
a) bibir atas (labium);
b) gigi atas (dentum);
c) lengkung kaki gigi atas (alveolum);
d) langut-langit keras (palatum);
e) langit-langit lunak (velum); dan
f) anak tekak (uvula).
3) Alat-alat Lain
Alat-alat lain yang dimaksudkan ialah alat bicara selain artikulator dan titik artikulasi yang dapat menunjang proses terjadinya bunyi bahasa. Yang termasuk alat-alat lain antara lain:
a) hidung (nose);
b) rongga hidung (nasal cavity);
c) rongga mulut (oral cavvity);
d) pangkal kerongkongan (faring);
e) katup jakun (epiglotis);
f) pita suara;
g) pangkal tenggorokan (laring);
h) batang tenggorokan (trachea);
i) paru-paru;
j) sekat rongga dada (diafragma);
k) saraf diafragma;
l) selaput rongga dada (pleural cavity); dan
m) bronchus.
Untuk memperjelas uraian tersebut, berikut ini digambarkan posisi alat bicara manusia.
.
Gambar di atas merupakan penampang membujur sehingga bagian-bagian yang harus diketahui dapat terlihat dengan jelas. Bagian bagian yang merupakan rongga dinyatakan dengan warna hitam: rongga hidung, bibir, mulut, dan kerongkongan.
Fungsi utama bagian-bagian yang ada dalam gambar itu sesungguhnya bukanlah sebagai alat pembentuk bunyi bahasa, melainkan sebagai alat pernafasan dan alat pencernaan makanan. Di dalam fonetik, dambar itu dibagi menjadi tiga bagian yaitu alat pernafasan, tenggorokan, dan rongga supragotal. Bagian pertama mengatur keluar dan masuknya udara; bagian kedua bekerja sebagai sumber bunyi bahasa; bagian ketiga berfungsi sebagai resonator. Ketiga bagian alat bicara itu selalu bekerja sama dalam pembentukan bunyi bahasa. Bila satu di antaranya bekerja tidak sebagaimana mestinya, maka seluruh bagian alat ucap itu akan merasakan akibatnya.
Di dalam rongga dada kita mempuntyai paru-paru dan sekat rongga dada atau diafragma yang mengatur keluar dan masuknya udara yang sangat penting artinya dalam pembentukan bunyi bahasa. Dalam gerakan pernafasan udara keluar dan masuk dengan bebas, tidak mengalami rintangan, dan tidak pula mengikuti perintah tertentu. Pernafasan ketika orang tidur lelap tidak ada bedanya dengan pernafasan ketika bangun dan sadar. Pembentukan bunyi bahasa lain lagi halnya. Baik pembentukan maupun pemahaman bunyi bahasa harus diawali oleh suatu kegiatan mental. Tanpa intelegensi mustahil bisa lahir bunyi bahasa. Bila seseorang merasa perlu untuk menyatakan pikiran, perasaan, keinginan, atau hasil pengindraannya, maka otaknya segera memberikan perintah kepada alat bicara yang memberikan reaksi dalam waktu yang amat singkat sehingga terbentuklah bunyi-bunyi bahasa yang tersusun lancar menurut kaidah tertentu sehingga mendukung makna yang sesuai dengan maksud pemakai bahasa.
Tenggorokan dilengkapi dengan bagian yang sangat penting yang disebut selaput suara atau pita suara. Selaput suara dapat diatur bentuknya dengan mudah, dan dapat digetarkan oleh udara yang keluar maupun yang masuk ke paru-paru. Getaran selaput suara dapat diketahui dengan jalan meletakkan tangan di tenggorokan (di bagian jakun) waktu kita mengeluarkan bunyi tertentu.
Di bagian atas rongga tenggorokan terdapat rongga kerongkongan, rongga mulut, dan rongga hidung. Ketiga alat itu disebut rongga spragotal yang berfungsi sebagai resonator atau pengalun. Di dalam rongga supraglotal itulah sebagian besar bunyi bahasa yaitu vokal, konsonan, semivokal, diftong, dan bunyi bahasa lainnya dibentuk.
Udara dari paru-paru berhembus ke luar oleh adanya tekanan diafragma. Arus udara itu keluar melewati tranchea, laring, pita suara dan faring. Kemudian arus udara dari faring ini bisa terbelah menjadi dua yaitu lewat mulut atau hidung. Aliran udara yang keluar dari paru-paru ini bisa bebas tanpa adanya halangan sebagai akibatnya, timbulah bermacam-macam bunyi bahasa, antara lain adanya bunyi hambat (stop), frikatif, lateral, dan sebagainya.
Alat bicara manusia antara satu dengan yang lain sanling berhubungan untuk membentuk bunyi bahasa. Dengan demikian fungsi masing-masing alat bicara kemungkinan ada sangkut pautnya dengan alat lain. Berikut ini adalah fungsi-fungsi yang dimaksud.
1) Paru-paru
Paru-paru mempunyai tugas bersama dengan diafragma untuk menghembuskan udara ke luar sehingga menimbulkan bunyi bahasa. Paru-paru biasa disebut sebagai motor penggerak alat bicara.
2) Pita Suara
Pita suara ini tempatnya di bawah jakun yang terdiri atas sepasang pita. Di tengah-tengah pita suara ini ada celah yang bisa melebar dun menyempit. Celah
pits suara ini lebih dikenal dengan sebutan glotis. Pita suara manusia dapat berubah-ubah posisinya, antara lain sebagai berikut ini.
a) posisi terbuka lebar
Posisi seperti ini tidak menghasilkan bunyi bahasa dart terjadi pada pernafasan normal saja.
b) posisi agak menyempit
posisi seperti ini akan menghasilkan bunyi tak bersuara, misalnya: [p], [t], [k], [c].
c) posisi menyempit
posisi ini akan menghasilkan bunyi bahasa bersuara, misalnya [b], [d], [g], [j].
d) posisi tertutup
posisi ini akan menghasilkan bunyi bahasa hamzah atau glotal stop, misalnya [h], dan [?].
3) Laring
Di dalam alert ini terdapat pita suara (vocal cord) yang melintang dari arah depan ke belakang. Dengan demikian fungsi alat ini ialah untuk meneruskan aliran udara yang berhembus dari paru-paru ke faring.
4) Faring
Fungsi alat ini yang utama ialah meneruskan aliran udara dari Pita suara. Akan tetapi alat ini bisa membentuk bunyi bahasa hamzah setelah bersentuhan dengar akar lidah (radik) sehingga bunyi senacam ini disebut bunyi faringal.
5) Lidah
Lidah merupakan salah satu artikulator yang sangat penting di dalam proses pembentukan bunyi bahasa. Pentingnya lidah ini bisa dilihat dari bunyi yang dihasilkannya bisa berupa vokal dan, konsonan. Vokal dihasilkan oleh gerak perpindahan posisi lidah tanpa bersentuhan tiengan titik artikulasi. Jika gerak-gerak perpindahan posisi ini bersentuhan dengan titik artikulasi, maka akan menghasilkan bunyi konsonan.
6) Bibir
Ada beberapa bunyi bahasa yang dihasilkan oleh sentuhan baik secara langsung atau tidak oleh bibir manusia. Bunyi [p, b] terjadi karena sentuhan antara bibir bawah dengan bibir atas sehingga aliran udara tertahan sebentar. Selanjutnya aliran udara tersebut dihembuskan sampai terdengarnya bunyi tersebut. Bunyi [p,b] dalam fonetik disebut bunyi bilabial, sebab terjadi karena sentuhan kedua bibir yaitu bibir atas dan bibir bawah. Selain itu, kedua bunyi itu dapat dinamai stop bilabial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar