Kamis, 15 April 2010

JENIS ARTIKULASI DAN KLASIFIKASI BUNYI BAHASA

A. Jenis-jenis Artikulasi

Pada bahasan sebelumnya telah dipelajari alat-alat ucap dengan baik. berbagai bunyi yang kta dengar dari alat bunyi merupakan hasil macam-macam penyekatan atau rintangan terhadap udara yang ditiupkan ke dalamnya. Paru-paru dapat menghembuskan udara ke tempat alat ucap yang ada di atasnya melalui tenggorokan dan kerongkongan dapat mengalami macam-macam penyekatan dan rintangan. Rongga yang dilalui aliran udara itu dapat berubah-ubah bentuknya disebabkan oleh jenis-jenis gerakan artikulator.

Artikulator adalah bagian alat ucap yang dapat bergerak dan menyentuh daerah artikulasi. Daerah artikulasi atau titik artikulasi selalu berada pada posisi tetap, tidak dapat bergerak. Sebagai akibat dari gerakan artikulator-artikulator yang menyentuh titik artikulasi terjadilah jenis-jenis artikulasi. Jenis-jenis artikulasi yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1) Hentian (stop), terjadi karena aliran udara terhenti sepenuhnya pada suatu tempat oleh alat ucap yang menutup rapat, sehingga terbentuklah bunyi-bunyi seperti p, b, t, d, k, g.

2) Spiran, terjadi bila rongga tempat udara lewat menyempit sehingga terbentuklah bunyi-bunyi berdesis seperti s,sy,z.

3) Getar atau trill, terjadi bila salah satu alat ucap bergetar sehingga terbentuk bunyi r.

4) Vokal, terjadi bila udara yang keluar dari paru-paru boleh dikatakan tidak mendapat rintangan, sedangkan rongga mulut berubah-ubah bentuknya karena gerakan lidah dan bibir, sehingga terbentuklahh bunyi-bunyi seperti a, i, u, e, o.

5) Frikatif, pada dasarnya jenis artikulasi ini termasuk ke dalam spiran. Bunyi f, v, dan sebagainya menjadi bunyi yang dihasilkan jenis bunyi ini.


B. Klasikfikasi Bunyi Bahasa

Akhir-akhir ini, pada umumnya orang lebih suka mengklasifikasikan bunyi bahasa menjadi dua kelas yaitu vokal dan konsonan. Di bawah ini terlebih dahulu akan diuraikan kelas bunyi vokal (vokoid).

Vokal merupakan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan melibatkan pita siara tanpa penyempitan dan penutupan pada daerah artikulasi.

Yang dimaksud vokoid ialah bunyi-bunyi bahasa yang terjadi karena udara dari paru-paru ke luar dengan bebas tidak mengalami rintangan sesuuatu apa pun. Celah pita suara yang dilalui udara tidak ter lalu longgar, akan tetapi agak menyempit saja. Vokoid semacam ini pada dasarnya termasuk bunyi yang bersuara, artinya selaput suara ikut bergetar sewaktu ada hembusan udara dari laring. Yang mempengaruhi bunyi vokoid selain jalan udara yang ditempuh juga lidah dan bibir. Vokoid mungkin merupakan bunyi oral, karena aliran udara seluruhnya mengalir lewat mulut atau sebaliknya termasuk bunyi nasal karena aliran udara seluruhnya lewat rongga hidung. Sehubungan dengan terjadinya vokoid, maka bagian-bagian lidah yang berfungsi sebagai artikulator memegang peranan penting sebagai pembentuk bunyi tersebut, misalnya depan lidah (pembentuk vokoid depan), tengah lidah (pembentuk vokoid pusat/tengah), dan belakang lidah (pembentuk belakang).

Secara artikulatoris, vokal dapat diklasifikasikan lagi ke dalam beberapa kelas tertentu. Pengklasifikasian ini dapat dilihat dari posisi lidah dan bentuk bibir ketika bunyi bahasa itu diproduksi. Agar lebih spesifik, berikut ini adalah klasifikasi vokal menurut posisi lidah, bentuk bibir, artikilator yang bergerak maupun dari jumlah vokal.

1) Dilihat dari Posisi Lidah

Posisi lidah dalam memroduksi bunyi bahasa akan mempengaruhi terhadap bunyi yang dihasilkan. Maka dari itu, terdapat beberapa jenis vokal apabila dilihat dari posisi lidah ketikan memroduksi bunyi. Jenis vokal yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) vokal tinggi.

b) vokal tengah; dan

c) vokal rendah.

2) Dilihat dari bagian lidah yang bergerak

Bergerak atau tidaknya lidah dalam memroduksi bunyi bahasa akan menghasilkan bunyi bahasa yang berbeda, untuk itu ada pengklasifikasian jenis vokal menurut bagian lidah yang bergerak. Adapun pengklasifikasian yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a) vokal depan/datar;

b) vokal belakang; dan

c) vokal tengah.

3) Dilihat dari bentuk bibir

Bentuk bibir yang dimaksud dalam pengklasifikasian jenis vokal berikut adalah bentuk bibir ketika proses produksi bunyi bahasa. Bentuk bibir ketika memroduksi bahasa terbagi atas dua jenis vokal yakni

a) vokal bundar; dan

b) vokal tak bundar

4) Dilihat dari jumlah vokal

Jumlah vokal ketika ujaran atau bunyi bahasa itu terdiri atas dua jenis vokal. Kedua jenis vokal tersebut adalah:

a) vokal tunggal (dasar); dan

b) vokal rangkap (diftong), dalam bahasa Indonesia hanya ada difong naik.

Di atas telah dipaparkan secara singkat bahasan mengenai vokal dan pembentukkannya. Selanjutnya kita akan membahas konsonan sebagai salah satu jenis fonem beserta pembentukkannya.

Konsonan adalah bunyi yang dihasilkan dengan mempergunakan artikulasi pada salah satu bagian alat bicara. Berlainan dengan pembentukkan vokal, pembentukan konsonan dilakukan dengan jalan merintangi aliran udara yang keluar dari paru-paru. Rintangan bisa dilakukan dalam rongga tenggorokan, rongga mulut, dan rongga bibir. Semua bunyi konsonan adalah bunyi kontoid. Udara yang dihembuskan dari paru-paru bisa lewat rongga mulut sehingga bunyi yang terjadi disebut bunyi oral; dapat juga lewat hidung sehingga bunyi yang dihasilkan disebut bunyi nasal.

Bunyi kontoid ialah bunyi yang terjadi jika aliran udara yang dihembuskan dari paru-paru mendapat rintangan atau halangan baik penuh maupun sebagian. Klasifikasi vokoid dapat dilakukan dengan dasar-dasar sebagai berikut.

1) Menurut dasar ucapannya (artikulator dan titik artikulasi), kontoid dapat dibedakan menjadi enam yakni: labial, dental, palatal, trill, dan semi vokal.

2) Menurut cara pengucapannya atau ada tidak adanya halangan, kontoid dapat dibedakan menjadi lima yakni hambat, spiran, lateral, trill dan semi vokal.

3) Didasarkan pada getar atau tidaknya selaput suara, kontoid dapat dibedakan menjadi dua yakni, bersuara dan tidak bersuara.

4) Didasarkan pada jalan keluarnya udara dari paru-paru, kontoid dapat dibedakan menjadi dua yakni, oral dan nasal.

5) Kombinasi dari berbagai kriteria di atas sehingga akan menghasilkan nama bunyi yang kombinasi juga.

Biasanya konsonan diklasifikasikan berdasarkan tiga hal yang ikut menentukannya yaitu dasar ucapan, cara melisankan, dan getaran pita suara. Bunyi yang dibentuk dengan getaran pita suara adalah bunyi bersuara.

Pada bahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa artikulator adalah alat ucap yang dapat bergerak, sedangkan daerah artikulasi merupakan alat ucap yang tidak dapat bergerak. Artikulator tertentu biasanya menghampiri atau merapat pada daerah artikulasi tertentu secara tetap. Post dorsum, misalnya, selalu mengartikulasi ke arah velum, tidak pernah mengartikulasi ke arah prae-palatum. Aspek tidak pernah berartikulasi ke arah velum. Titik artikulasi yang merupakan titik pertemuan antara artikulator dan daerah artikulasi ialah bilabial, labiodental, apikodental, apikoalveolar, apikopalatal, dorsovelar, dan glotal. Nama konsonan disesuaikan dengan titik artikulasi pada pembentukan konsonan yang bersangkutan. Pertemuan antara bibir bawah dan bibir atas disebut bilabial (dua bibir), bunyi yang terjadi disebut bunyi bilabial seperti [p], [b], dan [m].

Labiodental ialah pertemuan antara bibir dan gigi. Bunyi laiodental ialah [f]. Bunyi apikoalveolar terjadi karena ujung lidah (apeks) menyentuh alveolar. Konsonan [d] adalah bunyi apikoalveolar. Bunyi dorsoveolar ialah [k], [g], [nj]. Bunyi glotal terjadi di tenggorokan [?] terjadi bila glotis menutup, [h] terjadi bila glotis tetap terbuka. Bunyi [h] sering kali juga dianggap bunyi faringgal. Memang ada dua macam desah, ada yang faringgal ada yang laringgal. Dengan demikian lambang fonetiknya haruslah dibedakan.

Di samping dasar ucapan, klasifikasi konsonan harus dilakukan pula berdasarkan jenis ucapan (cara ucapan). Terdapat lima jenis artikulasi yaitu hentian (stop), spiran, sengau, lateral, getar. Yang termasuk konsonan hentian ialah [p], [b], [t], [d], [c], [j], [k], dan [g]. Bunyi-bunyi itu disebut plosif atau eksplosif sebab dibentuk dengan jalan menutup jalan udara secara sementara saja kemudian dibuka sehingga terjadi letupan. Penutupan jalan udara itu biasa terjadi karena bibir atas dan bawah dirapatkan (bilabial); bisa juga terjadi karena bibir disentuhkan dengan gigi, atau alveolo (apikodental atau apiko alveolar) kalau penutupan itu terjadi karena dorsum dilekatkan pada velum maka akan terjadi bunyi-bunyi dorsovelar.

Berdasarkan paparan-paparan di atas, maka dapat diklasifikasikan jenis-jenis konsonan menurut proses memroduksi bunyi bahasa. Adapun jenis-jenis konsonan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1) Konsonan Letupan, dihasilkan dengan cara udara dihambat kemudian diletupkan oleh artikulator. Konsonan letupan dibagi atas lima jenis yaitu:

a) yang dihasilkan di antata bibir [p], [b];

b) yang dihasilkan oleh ujung lidah dan langit-langit keras;

c) yang dihasilkan oleh ujung lidah dan lengkung kaki gigi [t], [d];

d) yang dihasilkan oleh tengah lidah dan langit-langit keras [c], [j];

e) yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit tekak [k], [g].

2) Gugus/Klaster, konsonan rangkap atau lebih yang termasuk dalam satu suku kata yang sama

3) Konsonan Sengau, dihasilkan dengan menutup arus udara keluar dari rongga mulut dengan membuka agar dapat keluar melalui hidung. Konsonan sengau dibagi atas empat jenis yaitu:

a) dihasilkan antara bibir [m]

b) dihasilkan ujung lidah dan lengkung gigi atas/gusi [n]

c) dihasilkan tengah lidah dan langit-langit keras [ny]

d) dihasilkan pangkal lidah dan langit-langit lunak [ng]

4) Konsonan Samping, konsonan yang dihasilkan dengan menghalangi arus udara sedemikian rupa sehingga dapat keluar hanya melalui sebelah/kedua belah sisi lidah. Tempat artikulasinya adalah ujung lidah dengan lengkung kaki gigi [l]

5) Konsonan Geseran/Frikatif, konsonan yang dihasilkan oleh alur yang amat sempit sehingga sebagian besar arus udara terhambat. Penghambatan terjadi pada:

a) penyempitan dinding varing dan pangkal lidah [h];

b) penyempitan pangkal lidah dan anak tekak [r];

c) penyempitan daun lidah dan lengkung kaki gigi [s], [z]; dan

d) penyempitan bibir bawah dan gigi atas [f], [v].

6) Konsonan Paduan/Afrikat, dihasilkan dengan menghambat arus udara pada salah satu tempat artikulasi secara implosif lalu dilepaskan secara penyempitan

7) Konsonan Getaran [r]

8) Konsonan Kembar, yang diperpanjang pelafalannya.

1 komentar:

  1. mengapa yang berbahasa ibu Indonesia sulit mengucapkan kata kata Inggris sementara yang berbahasa Ibu mandarin lancar mengucapkan bahasa Inggris?

    BalasHapus